Gambar: becak kota Medan, dari www.caingram.info
Dua tahun sudah kaki saya menjajak tanah dikota medan sebuah kota tua yang terkenal dengan sebutan tanah deli, berangkat jauh meninggalkan kampung halaman untuk sebuah cita-cita yang masih jauh untuk dicapai. Kadang kala hati dan tubuh ini lelah, frustasi bahkan nyaris putus asa karena beban yang saya bawa sudah terasa berat sekali. Baru tersadari diri ini ketika melihat sesosok orang tua yang sudah hampir setengah abad dengan tanpa lelahnya dia berjuang untuk hidup didunia yang keras ini.
Akhirnya saya sadar bahwa beban yang saya rasakan dan saya alami masih belum seberapa dibandingkan orang tua tersebut, adalah Pak Selamet seorang pedagang cendol keliling dengan gigih dan tak hentinya dikayuh becak pengangkut barang dagangannya setiap hari menuju pangkalan tempatnya biasa menjajakan dagangannya, tidak pernah saya dengar kata mengeluh terucap dari mulutnya yang terdengar hanya kata syukur yang selalu diucapkannya sebagai ungkapan terima kasihnya kepada sang pencipta yang sudah memberikannya nikmat hidup.
Yah pak Selamet seorang pedagang cendol keliling merupakan seorang entreprenuer sejati, beliau bisa bertahan dan berjuang untuk hidup tanpa bergantung pada orang lain, pikirku bagaimana dengan saya yang masih mudah dan masih cukup tenaga ini ?…. walaupun hanya tamat Sekolah rakyat (SD jaman dulu) namun pak pola pikirnya sangat jauh berbeda, dengan peruangan dan doanya serta bantuan sang istri tercinta yang selalu bersahaja dan setia mendampinginya kini pak Selamat mulai menikmati buah dari perjuangannya.
Dengan berdangang sebagai pedangang cendol keliling sebagai penopang hidupnya beliau berhasil menyekolahkan ke tiga anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi dan 2 diantaranya sudah menyelesaikan studinya dan telah bekerja, serasa diri ini memang belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan perjuangan seorang pak Selamet tersebut, mudah-mudahan dengan keyakinan yang kita miliki kelak dimasa yang akan datang gelar entrepreneur sejati akan bisa kita raih semoga…….
kalo ngeliat figur kyk pak Selamet jadi malu sendiri ya, mesti banyak bersyukur kita dari pada banyak ngeluhnya.
Jadi pembelajaran yang bagus nih bos biar tetep tekun.
One of my buddies is always talking about your blog at work – finally came and checked it out today, nice work! I’m subscribing to your rss feed – keep on posting!
semangat pak selamet itu haus ditiru
tidak perduli dengan gangguan kecil yang ada disekitar kita kalo emang niatnya untuk kemajuan dan kebaikan
Wah, Pak Slamet hebat. Kaya’nya dia gak bakal terpengaruh dengan gelombang PHK yang bikin banyak orang sport jantung ya.
tapi terkadang melihat hal seperti itu membuat ku takut membayangkan kelak seperti apakah hari tuaku ?
iks
Thanks dah berkunjung ke blog ku bang
soerdjak: betul bos
ultragreen: ok thanks
BlogSigit: hidup pak selamet
bewe: inilah fundamental ekonomi indonesia sebenarnya
medan blogger: sama-sama bro
Salut buat pak Slamet… keteladanan yang patut ditiru… semangat ah!