Gambar: becak kota Medan, dari www.caingram.info
Dua tahun sudah kaki saya menjajak tanah dikota medan sebuah kota tua yang terkenal dengan sebutan tanah deli, berangkat jauh meninggalkan kampung halaman untuk sebuah cita-cita yang masih jauh untuk dicapai. Kadang kala hati dan tubuh ini lelah, frustasi bahkan nyaris putus asa karena beban yang saya bawa sudah terasa berat sekali. Baru tersadari diri ini ketika melihat sesosok orang tua yang sudah hampir setengah abad dengan tanpa lelahnya dia berjuang untuk hidup didunia yang keras ini.
Akhirnya saya sadar bahwa beban yang saya rasakan dan saya alami masih belum seberapa dibandingkan orang tua tersebut, adalah Pak Selamet seorang pedagang cendol keliling dengan gigih dan tak hentinya dikayuh becak pengangkut barang dagangannya setiap hari menuju pangkalan tempatnya biasa menjajakan dagangannya, tidak pernah saya dengar kata mengeluh terucap dari mulutnya yang terdengar hanya kata syukur yang selalu diucapkannya sebagai ungkapan terima kasihnya kepada sang pencipta yang sudah memberikannya nikmat hidup.
